Sabtu, 21 Juni 2008

Klub Timor-er, Makin Eksis Meski Stop Produksi



Tak peduli mobil masih produksi atau tidak. Yang penting kecintaan dan nilai ekonomis dari mobil tersebut menjadi pemikat. Inilah salah satu alasan mengapa klub mobil Timor yang dinamakan Timor-er tetap eksis bahkan semakin berkembang.

Klub yang berdiri sejak 2003 ini, kini memiliki 300 anggota di Jakarta. Ditambah anggota daerah yang melengkapi jumlahnya menjadi sekira 400 orang. Selain di Jakarta, Timor-er juga eksis di Medan, Pekanbaru, Palembang, Lampung, Bandung, Surabaya, Manado, dan NTT.

Berhentinya produksi Timor sejak 2002, justru menjadi pemicu para pemilik mobil Timor untuk bergabung ke klub yang resmi berdiri sejak 8 Juni 2003 ini. "Banyak orang-yang bertanya, bagaimana dengan ketersediaan suku cadang setelah produksi dihentikan. Klub ini justru menjadi jawaban keraguan tersebut. Di sini kita bisa menggali informasi mengenai sumber suku cadang mobil dan hal lainnya," kata Diki Lestariono, ketua Timor-er. Dengan bergabung di klub banyak yang dapat dieksplorasi dan itu belum tentu didapat di luar. Seperti permaalahan suku cadang, banyak yang tidak tahu apabila ada bagian mesin dari Mazda 323 yang juga sesuai dengan Timor. "Bagian seperti plat kopling, kanvas kopling, timing belt, hockbraker, dan banyak lagi dari Mazda 323 juga bisa dipakai meski harganya agak mahal," paparnya. Selain itu, Timor Putra Nasional (TPN), selaku produsen mobil Timor juga masih menyuplai suku cadang.

Menurut Diki, ketersediaan suku cadang mobil Timor aman untuk kurun waktu lebih dari 10 tahun ke depan. Sehingga pemilik Timor tidak perlu khawatir akan masalah purna jual.

Sejak klub didirikan kecenderungan pemilik Timor untuk bergabung semakin banyak. Selain untuk wadah sharing mengenai part mobil setelah berhenti produksi, mobil Timor bisa dibilang sedan second murah yang ada saat ini. Di tengah kondisi ekonomi yang terpuruk, mobil-mobil murah second menjadi pilihan banyak orang. "Dengan uang Rp50 jutaan aja kita sudah bisa dapat mobil Timor yang tahunnya masih terbilang baru, yaitu 1999-2002-an. Belum tentu mobil Jepang bisa terbeli dengan harga tersebut," ungkap Diki.

Sehingga terkesan pemilik Timor saat ini kental dengan kesan orang yang ingin memiliki sedan namun tidak memiliki uang banyak. Sepanjang tahun ini saja, anggota klub Timor-er bertambah 70 orang.

Mengenai program, Diki menandaskan bahwa klubnya memiliki prinsip "It's not just an automotive club, it's a Timor-er family". "Klub ini didirikan bukan sekedar kongko-kongko mengenai dunia automotif, namun juga untuk kebersamaan dan keuarga," katanya. Oleh karena itu kegiatan Timor-er juga diorintasikan kepada acara-acara keluarga.

Meski kegiatan tidak diadakan sesering dulu lagi, Timor-er tetap mengagendakan acara rutin seperti family gathering setiap akhir tahun, acara amal, seperti santunan anak yatim, dan touring. Selain itu, tak ketinggalan coaching clinic yang diadakan setiap bulan sekali. Acara ini penting mengingat banyak anggota-anggota baru yang masuk. "Pada Juni ini, kita belajar mengenai mesin. Bulan depan, kita belajar tentang 'kaki-kaki' mobil," paparnya. Selain membahas tentang jeroan mobil, Timor-er juga menggali potensi anggota klubnya melalui coaching clinic seputar dunia balap. Timor-er juga menjadwalkan pertemuan bulanan setiap minggu terakhir setiap bulan, tepatnya Jum'at malam di restaurant milik salah satu anggota di daerah Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Sumber : https://news.okezone.com/read/2008/06/21/199/120840/klub-timor-er-makin-eksis-meski-stop-produksi