Timor-er

"Its sot Just Automotive Club, its Timor-er Family"

Timor-er

"Its sot Just Automotive Club, its Timor-er Family"

Timor-er

"Its sot Just Automotive Club, its Timor-er Family"

Timor-er

"Its sot Just Automotive Club, its Timor-er Family"

Timor-er

"Its sot Just Automotive Club, its Timor-er Family"

Kamis, 17 April 2014

Ini Kisah Menyambung Napas Timor


WARTA KOTA, TANGERANG - Mobil Timor telah melalui lika-liku sejarah panjang. Ia menggelinding di tengah era Orde Baru. Ia menjadi obyek pelampiasan amarah lewat pelemparan dan pembakaran massal pada kerusuhan 1998. Sampai hari ini, Timor terus bertahan dalam perawatan pencintanya.

Pemilik mobil Timor berusaha merawat keberadaan mobil Teknologi Industri Mobil Rakyat (Timor) dengan membangun persaudaraan dalam komunitas Timor-er. Meskipun tidak memiliki bengkel resmi dan suku cadang asli tak lagi diproduksi, Timor bertahan karena kecintaan penggemarnya.


Tingginya gairah anggota Timor-er antara lain tampak dalam acara kopi darat pencinta Timor, Minggu (6/4), di Tangerang. Lebih dari 50 mobil Timor berdatangan dari seluruh penjuru Jabodetabek. Saat ini, jumlah anggota Timor-er terus bertambah dari awalnya hanya sekitar 100 orang menjadi lebih dari 800-an orang di Jabodetabek.

Mereka saling mengagumi fisik serta performa mobil hingga curhat terkait mesin. Semua ilmu dari para suhu montir dibagi kepada seluruh anggota Timor-er. Tren-tren baru modifikasi mesin dipertontonkan. Kap-kap mobil dibuka dan para pencintanya merubung untuk ”mencuri” ilmu.


Roni memamerkan mobil Timor yang dibelinya tahun 2006. Kini, si Timor itu sudah dirombak total. Ruang mesin dipercantik dengan tampilan tanpa kabel. Agar terlihat semakin rapi, aki pun diungsikan ke bagasi. ”Kalau mobil semrawut, baru buka kap aja sudah lemas. Tanpa kabel jadi simpel. Tangan ke mana saja sampai,” kata Roni.

Semua pintu mobil juga dibuat otomatis sehingga bisa dibuka tutup menggunakan alat pengontrol. Jok dibuat nyaman dengan pilihan bahan sofa nan empuk. Garasi mobil Roni juga dipercantik dengan batu warna hitam putih menyerupai huruf T yang merupakan logo Timor.

Untuk modifikasi itu, Roni menghabiskan dana yang setara dengan harga dua mobil Timor. Jika dihitung-hitung, total dana yang dikeluarkan bisa digunakan untuk membeli mobil baru buatan Jepang. ”Dengan dana seminimal mungkin, kita bisa eksis. Gagah dengan Timor itu suatu kebanggaan. Ini sebenarnya mobil narsis, untuk pamer,” katanya.


Tak hanya untuk keperluan fashion, Timor juga mampu memenuhi gairah penggemar yang ingin terlibat di ajang balap profesional. Salah satu pebalap andalan Klub Timor-er, Zaky, sempat tercatat sebagai pembalap Timor tercepat dengan perolehan waktu 15 detik. Zaky mulai melirik dunia balap mobil sejak menjabat ketua Timor-er periode 2011-2013.

”Empat kali gonta-ganti mobil Timor. Untuk mobil sekelas, dia paling menguntungkan. Umur nggak terlalu tua dan bisa diajak kencang,” ujar Zaky.


Tidak manja
Anak-anak muda lain, seperti Septa dan Faiq, juga mulai menggandrungi Timor untuk keperluan balap. Sebelum gabung dengan klub balap Timor-er, Septa bahkan sempat menggunakan Timor di areal balap liar. ”Bandel dan irit. Kanibalnya banyak. Jodoh saya sama Timor,” kata Septa yang sudah empat tahun mengendarai Timor yang dibelinya seharga Rp 40-an juta.


Timor makin digandrungi terutama karena harganya yang murah. Mayoritas pencintanya melirik mobil Timor dengan alasan harga yang sesuai kantong. Apalagi, suku cadangnya pun tergolong murah dan bisa dengan mudah diganti dengan cara ”kanibal” atau mengambil dari mesin mobil lain, seperti Mazda, Mitsubishi, hingga pikap L300. Dengan mesin sedan 1.500 cc, bahan bakar Timor tergolong irit.

Ketika akan membeli mobil Timor, Tomo sempat ragu-ragu karena suku cadang asli Timor tak lagi diproduksi. Setelah satu tahun membeli mobil Timor, suku cadang murah ternyata begitu mudah diperoleh. ”Dirawat rutin supaya jangan sampai ada masalah di jalan. Kalau ada masalah, segera sharing di milis, pasti akan berdatangan saling membantu,” kata Tomo.

Harga beli yang murah juga menjadi alasan bagi Bayu ketika menjatuhkan pilihan pada Timor. Bagi Bayu, Timor menjadi mobil pertama setelah sebelumnya lebih banyak mengendarai sepeda motor. Satu tahun terakhir mengendarai Timor, ia dan keluarganya merasa puas.


Husein, pemilik bengkel yang juga menjabat Wakil Ketua Timor-er, misalnya, sering kali gonta-ganti mesin mobil Timor yang dimilikinya sejak 2004. ”Yang belum dicoba cuma mesin jahit, ha-ha-ha. Timor murah, jadi nggak sayang untuk dimodifikasi,” ujar Husein.

Asal dirawat di bengkel yang tepat, Timor bisa memberikan kenyamanan setara sedan merek lain. Anggapan negatif bahwa mesin Timor gampang panas juga dengan mudah dibantah. Kelemahan Timor antara lain adalah material dashboard yang terlalu empuk sehingga mudah lepas.

Seluruh pemilik Timor dituntut belajar tentang mesin mobil sehingga memudahkan penanganan jika terjadi kerusakan di jalan raya. Ilmu tentang mesin itu antara lain diperoleh dari kumpul komunitas.


Berjuang mandiri
Timor sempat digadang-gadang sebagai mobil nasional pertama yang lahir lewat instruksi Presiden Soeharto pada 1996. Proyek yang dilimpahkan kepada putra Soeharto, Hutomo Mandala Putra, lewat PT Timor Putra Nasional (TPN) ini kemudian menuai banyak protes. Inpres dianggap tidak adil karena memberi keistimewaan bebas pajak impor barang mewah hanya bagi TPN.


Organisasi Perdagangan Dunia, WTO, menyatakan bahwa Indonesia telah melanggar asas perdagangan bebas dunia dan harus menghentikan program mobil nasional yang baru memiliki 20 persen komponen lokal ini. Beberapa bulan sebelum mengundurkan diri dari jabatan presiden, Soeharto menghentikan program mobil nasional.


Sejak saat itu, Timor tidak lagi diproduksi, tetapi puluhan ribu mobil telanjur membanjiri pasar. Pemilik mobil Timor kemudian berjuang meraih kemandirian dengan mendirikan Komunitas Timor-er. Komunitas ini tak sekadar menjadi ajang kumpul-kumpul, tapi sekaligus menjadi penyokong kemandirian pemilik mobil Timor.

”Sejarah Timor memang agak seram. Sempat jadi sasaran kemarahan pada Orde Baru, dilempari dan dibakar. Kami, sih, enjoy-enjoy saja. Justru ada kebanggaan sendiri. Bagaimanapun, ini mobil nasional pertama, lho,” kata Husein.


Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/2014/04/17/ini-kisah-menyambung-napas-timor